“Masa lalu adalah bayangan, masa sekarang adalah kenyataan
dan masa depan adalah harapan”, begitulah kata-kata bijak yang sering
terlontar dari motivator. Bagi kita adalah yang terpenting dapat
menangkap maknanya dengan erat dan menghayatinya dalam setiap langkah
yang diambil.
Bagaimana pun pahit atau manisnya masa lalu, dia tak akan pernah
kembali. Ia bersatu bersama waktu, dilatari keadaan waktu itu, baik
kondisi diri kita dan lingkungan kita. Jangan pernah merasa sama dan mau
sama, kita yang sekarang dengan kita yang dulu!
Kita seharusnya meyakinkan diri kita, bahwa kita lebih baik daripada
kemarin dan masa lalu itu. Kenapa? Bukankah dalam sebuah hadist
dinyatakan, “merugilah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin”.
Maka dari itu, kenapa kita harus merasa sama dan terlalu melihat masa
lalu?
Walaupun keadaan kita seperti sama, mulailah dari merubah maind set
bahwa kita berbeda, dan lebih baik dari hari kemarin dan masa lalu. Masa
lalu hanya bayangan, ia hanya untuk bahan introspeksi agar tidak
mengulang kesalahan yang sama.
Minyak bumi, gas alam dan batu bara adalah sisa jasad masa lalu. Ia
menjadi sangat berguna karena dapat menjadi bahan bakar yang
menghasilkan energi (kekuatan). Ini petunjuk luar bisa dari Sang Maha
Pencipta, maka seperti itulah seharusnya masa lalu kita jadikan.
Selanjutnya, mari kita nikmati masa sekarang. Coba berpikir sejenak,
apa yang takut hilang dari diri kita, tetapi sebetulnya kita masih
memilikinya? Mungkin orang tua, sanak saudara, teman-teman baik,
kesehatan, pekerjaan yang menantang dan menyenangkan, penghasilan, serta
keyakinan kita pada Yang Maha Segala-galanya. Jangan sampai, saat ini
kita tidak merasa bahwa itu suatu kenikmatan, karena merasa biasa akibat
masih ada, karena sibuk melihat masa lalu, atau karena terlalu
melambung mencipta-cipta masa depan, atau terlalu sibuk menatap yang
serba lebih dari kita.
Menikmati masa sekarang adalah wujud syukur, karena bersyukur yang
paling utama adalah bukan pada masa lalu atau masa depan, tetapi saat
ini juga! Jadi, tak perlu lagi masa lalu yang pahit menyakiti hati kita
saat ini, lalu kita menunda dengan berbagai alasan untuk bahagia saat
ini, untuk bersyukur saat ini, untuk memulai menjalin hubungan saat ini,
untuk berzakat dan banyak bersedekah saat ini, untuk banyak beribadah
saat ini, dan lain-lain.
Kita tidak pernah tahu, apakah kita besok masih hidup sehingga kita
bisa meraih apa yang kita cita-citakan. Apakah orang tua kita masih ada,
sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam pernikahan kita? Apakah
pekerjaan kita masih ada, karena tempat kerja kita manajemennya berjalan
baik? Dan lain-lain. Yang jelas kita : t i d a k p e r n a h t a h u !
Masa depan adalah kuasa Allah SWT, ghaib. Kita hanya diwajibkan untuk
berpikiran positif. Bukankah Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya,
“Aku seperti persangkaan hamba-Nya. Maka dari itu, masa depan,
orang-orang, pekerjaan, lingkungan mau lama atau baru seharusnya ditatap
dengan persangkaan yang baik, bukan yang buruk! Dan ini seharusnya
berlaku untuk segala hal, tak terkecuali, walaupun kita pernah trauma
dengan hal itu, karena Allah SWT sendiri mewanti-wanti kita agar selalu
berpegang pada-Nya, “dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Jadi, setelah menyadari, jangan hentikan langkah sampai di batas
sadar. Karena tak akan banyak berguna. Putuskanlah untuk mengambil
langkah demi langkah dengan cepat tetapi cermat saat ini juga dengan
selalu bergantung pada Yang Maha Tahu Segala-galanya. Kita tidak akan
pernah sangat menyesal, jika kita sudah berupaya seoptimal mungkin.
Penyesalan biasanya timbul dari usaha yang kurang sungguh-sungguh untuk
keluar dari belenggu dan timbul karena hanya berupaya secara biasa-biasa
saja. Semoga Allah SWT meridhai segala tindakan yang kita ambil. AYRA.
Wallahu’alam. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar